Rhema Hari Ini

Sabtu, 19 Juli 2014

Horatio Gates Spafford ( 1828-1888)

IT IS WELL WITH MY SOUL’ (Nyamanlah Jiwaku) (Horatio Gates Spafford, 1828-1888)


            Lagu ini ditulis oleh seorang Kristen penganut Presbytarian bernama Horatio Gates Spafford. Spafford lahir di North Troy, New York pada tanggal 20 Oktober 1828. Pada masa mudanya, Spafford adalah seorang praktisi hukum (pengacara) yang sukses di Chicago.
            Akhir 1860-an kehidupan Horatio G. Spafford dan istrinya, Anna sangat baik dan diberkati. Mereka tinggal di pinggiran kota sisi utara Chicago dengan lima anak mereka : Annie, Maggie, Bessie, Tanetta dan Horatio Junior. Mereka memiliki segalanya yang diinginkan manusia di dunia. Seiring dengan kesuksesannya di bidang keuangan, ia juga sangat tertarik dengan kegiatan Kristiani. Pintu rumah Spafford selalu terbuka sebagai tempat bagi para aktivis Kristiani untuk pertemuan gerakan reformasi waktu itu.
            Horatio G. Spafford cukup aktif dalam gerakan Abolisionis (Abolisionis merupakan gerakan penghapusan hukuman mati yang muncul pada tahun 1767. Gerakan itu terinspirasi esai ‘On Crimes dan Punishment’ yang ditulis Cesare Beccaria). Spafford juga membina hubungan baik dengan Dwight L. Moody dan penginjil-penginjil lain pada masa itu, bahkan sering bertamu ke rumah mereka. Spafford adalah seorang penatua gereja Presbyterian dan Kristen yang berdedikasi. George Stebbins menggambarkan Spafford sebagai ‘seorang dengan kepandaiannya yang luar biasa, berbudi luhur, musisi rohani terkemuka dan tekun dalam mempelajari Alkitab’.
TERCIPTANYA LAGU KARENA MUSIBAH
            Pada tahun 1870 iman mereka diuji oleh tragedi. Anak laki-laki mereka, yang berumur empat tahun, Horatio Junior, meninggal dunia karena demam berdarah. Tidak hanya sampai di situ saja tragedi yang dialami. Beberapa bulan sebelum kebakaran besar di Chicago tahun 1871, Spafford menginvestasikan modal yang cukup besar untuk usaha real estate di pinggiran danau Michigan, tapi semua investasinya tersapu habis oleh bencana tersebut. Tercatat ada 250 orang meninggal di lalap jago merah tersebut dan 90.000 orang kehilangan tempat tinggal. Meskipun menderita kerugian sangat banyak, mereka menjadi tenaga sukarela membantu proses evakuasi para korban.
            Karena ingin menghibur keluarganya sekaligus berpartisipasi dalam program kebangunan rohani D.L.Moody dan Ira D.Sankey di Inggris, maka Spafford merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga pada bulan November 1873. Namun karena masih ada urusan pekerjaannya di Chicago, Spafford tidak berangkat bersama dengan keluarganya. Sekali pun demikian ia tetap bahagia karena istri dan keempat anaknya itu pergi bersama-sama dengan orang-orang Kristen lainnya. Ia telah memutuskan akan menyusul menemui mereka kemudian di Perancis. Ia minta kepada istri dan keempat anak perempuannya untuk berangkat lebih dulu dengan kapal SS Ville du Havre. Saat itu Kapal S.S. Ville du Havre adalah sebuah kapal layar samudera milik maskapai pelayaran Perancis, yang merupakan kapal paling mewah yang berlayar dari pelabuhan New York.
            Pada tanggal 22 November 1873 pukul 2 dini hari, saat kapal pesiar mewah ini sudah berlayar beberapa hari lamanya di atas laut yang tenang, sebuah kapal besi berbendera Inggris bernama Lochearn menabraknya. Akibatnya dalam waktu dua jam Ville du Havre, salah satu kapal terbesar yang pernah ada pada waktu itu, tenggelam ke dasar samudera Atlantik beserta 226 penumpangnya termasuk keluarga Spafford. Sembilan hari kemudian korban yang selamat dari kapal itu tiba di pulau Cardiff, Wales, Inggris dan di antara mereka terdapat Nyonya Spafford. Dia mengabarkan melalui telegram kepada suaminya dengan dua kata, ‘saved alone’ (hanya aku yang selamat).
            Bagaimanakah reaksi Spafford ketika mendengar berita buruk tersebut ? Mengingat peristiwa inii merupakan tragedi yang kedua baginya. Yang pertama, ia baru saja mengalami kerugian usahanya akibat dari kebakaran besar di Chicago. Yang kedua, ia kehilangan keempat anaknya. (Buku Story Behind The Song terbitan Yis Production menjelaskan lengkap berikut foto-fotonya).
            Dengan kapal pertama di bulan Desember pada tahun yang sama, Spafford berangkat untuk menyusul istrinya ke Eropa. Di dalam perjalanan itu, kapten dari kapal yang ditumpanginya memanggil Spafford ke dalam kabinnya dan mengatakan bahwa saat itu kapal sedang berada di daerah di mana Ville du Havre tenggelam. Kebetulan malam itu Spafford sangat sulit untuk memejamkan matanya. Di tengah laut tersebut, ia minta kepada kapten kapal yang ditumpanginya untuk berhenti sebentar. Dengan memuji Tuhan, di tengah Samudera Atlantik, saat kesedihan dan kepedihan terasa di dalam hatinya, Spafford menuliskan lima stanza (bait/ayat) lagu yang salah satunya berbunyi : “When peace like a river attendeth my way, When sorrows like sea-bellows roll, Whatever my lot, Thou has taught me to say, ‘It is well, it is well with my soul!’ Begitulah Spafford mendapat        kata-kata lagu ‘It Is Well With My Soul’ yang kini sudah diterjemahkan menjadi ‘Nyamanlah Jiwaku’.
            Lirik yang ditulisnya ini merupakan ungkapan perasaannya. Hal itu terlihat dari syair lagu yang didapat di kapal tersebut. Spafford tidak menumpahkan kedukaannya, tapi lebih pada pengampunan yang sudah dilakukan Kristus dan pengharapan akan kedatanganNya yang kedua. Di bait pertama dan kedua masih disebutnya rasa sedihnya dengan kata-kata ‘dan walau derita penuh’ (walau kesusahan menimpaku ‘Whatever my lot’) dan ‘kendati pun susah terus menekan’, tetapi di bait ketiga sudah diserukan ‘dan aku lepas’, dan di bait keempat bahkan ia menunjuk ke masa kedatangan Kristus kelak dan ia mencatat ‘pabila serunai berbunyi gegap, ku seru : S’lamatlah jiwaku!’ Ia tidak mau jiwanya tertindas oleh kesedihan. Secara manusiawi, sulit dipercaya bahwa di tengah-tengah rasa dukanya yang mendalam, Spafford sanggup mengatakan, ‘S’lamatlah jiwaku’ atau yang diterjemahkan sebagai ‘Nyamanlah jiwaku’. Setelah mereka bertemu beberapa minggu kemudian Nyonya Spafford mengatakan bahwa dia tidak sedang kehilangan anak-anaknya, melainkan hanya berpisah untuk beberapa waktu lamanya.
PHILIP P. BLISS MENULIS MELODINYA
           Beberapa waktu kemudian dengan bantuan Philip Paul Bliss (1838-1876), seorang pemimpin pujian dan komposer, rekan pelayanan Spafford dalam suatu komunitas Kristen di Chicago, stanza-stanza yang dibuat oleh Spafford itu digubahkan musiknya sehingga menjadi suatu lagu. Philip Bliss bergabung dengan penginjil legendaris D.W. Whittle dan D.L. Moody sebagai direktur musik di pusat pelayanan di Chicago. Ia begitu terkesan dengan syair ‘It Is Well With My Soul’ yang ditulis berdasarkan pengalaman Spafford, lalu tanpa kesulitan ia mendapat inspirasi untuk menulis melodi dari lagu tersebut. Pada hari terakhir bulan November 1876 dalam sebuah ibadah di Farwell Hall, Chicago yang dihadiri oleh ribuan jemaat, Phillip Paul Bliss secara resmi memperkenalkan lagu ‘It Is  Well With My Soul’ sebagai lagu hymne.
           Sebulan kemudian, kira-kira dalam bulan Desember 1876, pasangan suami istri Bliss bepergian dengan kereta api Pacific Express dari Buffalo, New York menuju Chicago untuk suatu pelayanan. Dalam perjalanan di wilayah Ohio kereta api yang ditumpangi oleh pasangan suami istri Bliss itu melewati sebuah jembatan penyeberangan. Tiba-tiba saja jembatan tersebut runtuh ke sungai yang  beku dengan es yang ada di bawahnya. Kereta api yang jatuh bersama dengan jembatan penyeberangan tersebut terbakar. Akibatnya, penumpang yang berusaha menyelamatkan diri, tewas.
           Dari 160 orang penumpang, 14 orang dinyatakan selamat dan hanya 59 jenazah saja yang dapat dikenali. Berdasarkan pencarian intensif yang dilakukan oleh para sahabatnya, pasangan suami istri Bliss dinyatakan termasuk dalam korban tewas yang tidak didapat dikenali lagi jenazahnya.
RENUNGAN
            Dua peristiwa di atas menyatakan tidak ada makam bagi mereka yang tewas itu di dunia ini, baik anak-anak Spafford yang tenggelam di Samudera Atlantik dan pasangan Bliss di dalam kecelakaan di Ohio. Akan tetapi lagu hymne mereka dapat terus hidup di hati orang-orang percaya sepanjang jaman yang dengan sukacita penuh kemenangan berkata : “It is well with my soul”.
            Dari dua keluarga ini, Spafford dan Bliss, hari ini kita mendapat pelajaran mengenai sikap hati yang pasrah dan iman yang murni. Kita memang tidak tahu akan sekuat apakah diri kita saat Tuhan mengijinkan kita berhadapan dengan realita yang sangat menyedihkan itu. Yang terpenting dari semua itu adalah bagaimanakah respon kita ketika semua yang kita miliki dan kasihi diambil daripada kita ? Melalui lagu hymne ‘It Is Well With My Soul’ karya Spafford dan Bliss ini, kita diingatkan betapa nyaman jiwa kita sesungguhnya, jika berada di dalam Tuhan yang sudah mati dan bangkit bagi kita. (Sumber : Praise #14).

Lirik & Chor Lagu ini dapat dilihat di SONGS
IT IS WELL WITH MY SOUL

  1. When peace, like a river, attendeth my way,
    When sorrows like sea billows roll;
    Whatever my lot, Thou has taught me to say,
    It is well, it is well, with my soul.
Refrain:
It is well, with my soul,
It is well, it is well, with my soul.
  1. Though Satan should buffet, though trials should come,
    Let this blest assurance control,
    That Christ has regarded my helpless estate,
    And hath shed His own blood for my soul.
  2. My sin, oh, the bliss of this glorious thought!
    My sin, not in part but the whole,
    Is nailed to the cross, and I bear it no more,
    Praise the Lord, praise the Lord, O my soul!
  3. For me, be it Christ, be it Christ hence to live:
    If Jordan above me shall roll,
    No pang shall be mine, for in death as in life
    Thou wilt whisper Thy peace to my soul.
  4. But, Lord, ’tis for Thee, for Thy coming we wait,
    The sky, not the grave, is our goal;
    Oh, trump of the angel! Oh, voice of the Lord!
    Blessed hope, blessed rest of my soul!
  5. And Lord, haste the day when my faith shall be sight,
    The clouds be rolled back as a scroll;
    The trump shall resound, and the Lord shall descend,
    Even so, it is well with my soul.

NYAMANLAH JIWAKU
Verse 1
Bila damai mengiring jalan hidupku
Rasa aman di hatiku
Dan kesusahan menimpaku
Tlah Kau ajarku mengingat firmanMu
Reff:
Nyamanlah jiwaku
Nyamanlah, nyamanlah jiwaku
Verse 2
Dalam pergumulan dan perncobaan
Kristus membrikan jaminan
Dan mempedulikan kepapaanku
DarahNya membasuh jiwaku
(back to Reff)

Verse 3
Tuhan lekaskanlah harinya tib
Imanpun akan tampaklah
Dan sangkakala pun akan berbunyi
Tuhan akan turun ke bumi
(back to Reff)


Sumber : www.majalahpraise.com

Jumat, 18 Juli 2014

John Francis Wade, 1711-1786

O, Come All Ye Faithfull / Adeste Fideles (Hai Mari Berhimpun) (John Francis Wade, 1711-1786)

O, Come All Ye Faithfull / Adeste Fideles (Hai Mari Berhimpun) (John Francis Wade, 1711-1786)


Tampaknya hampir semua orang Kristiani tahu lagu Natal yang berjudul ‘Hai Mari Berhimpun’. Bagaimana tidak, selama dua abad lebih lagu yang aslinya dalam bahasa Latin ‘Adeste Fideles’ ini sudah dinyanyikan baik dalam bahasa latin, Inggris dan hampir semua bahasa di dunia. Lagu ini boleh dikatakan sebagai lagu Natal yang paling populer kedua setelah ‘Silent Night’ (Malam Kudus). Di balik kisah lagu ini, ada banyak hal yang bisa dipelajari.

Melodi Diciptakan Lebih Dulu
    Kebanyakan lagu hymne, diciptakan lirik (kata-kata) nya dahulu, baru menyusul melodi (not) nya. Namun tidak begitu dengan lagu yang diberi judul ‘O Come, All Ye Faithful’ ini. Lagu Natal ini mula pertama dikenal melodinya dahulu, kemudian baru syairnya.
    Kisahnya diawali pada tahun 1744. Not-not yang bernada gembira itu sudah dimasukkan dalam sebuah sandiwara yang lucu di Paris, Perancis. Menurut penyelenggara dagelan itu, melodi yang dipakainya adalah sebuah ‘lagu Inggris’. Enam tahun setelah itu, tepatnya tahun 1750, lagu itu lengkap dengan kata-kata aslinya dalam bahasa Latin, dan sudah dipakai oleh umat Katolik di Lisbon, ibu kota Portugis. Dari sana ada orang-orang yang membawanya ke London, Inggris.
     Seseorang, entah siapa, menggubah kembali not-notnya, sehingga menjadi sama seperti melodi yang kita dengar pada masa kini. Dalam bentuknya yang baru, lagu itu dinyanyikan pada Hari Natal tahun 1785 dalam sebuah Chapel Katolik kecil di gedung kedutaan besar Portugis di London. Di sana seorang bangsawan Inggris sempat mendengarnya. la sangat menyukai lagu Natal itu, bahkan dikira sebagai ‘Portuguese Hymn’ (Lagu Rohani Portugis). Kemudian ia pun mengajarkannya kepada anggota paduan suara yang dipimpinnya. Sebutan ‘Portuguese Hymn’ untuk lagu Natal itu masih tetap dipakai hingga kini dalam banyak buku nyanyian. Rupa-rupanya banyak penerbit belum tahu mengenai asal mulanya lagu tersebut. Bahkan sempat dianggap lagu ini karya Raja Joseph atau Raja John dari Portugal, atau bahkan komposer opera Marcas Portugal.
    Sementara itu, umat Kristen bukan Katolik makin lama makin banyak menggunakan melodi dari lagu Natal itu. Hanya saja, mereka umumnya tidak tahu bahwa sebenarnya bentuk asli nyanyian itu adalah sebuah lagu Natal. Mungkin karena kata-kata aslinya ditulis dalam bahasa Latin, yakni bahasa liturgi dan kebaktian Gereja Katolik. Maka melodi itu dipisahkan dari syair bahasa Latin yang tidak dipakai secara umum dan ‘dijodohkan’ dengan berbagai-bagai syair rohani yang lain. Misalnya, dalam buku Nyanyian Kemenangan Iman (NKI No.22) maupun dalam buku Lagu Sion, melodi itu ‘dijodohkan’ dengan sebuah lagu rohani biasa ‘Teguhlah Alasan’ (sedangkan buku Lagu Sion itu tidak memuat sama sekali ‘Lagu Natal’ yang dikisahkan dalam buku ini).

Pengarangnya Diketahui
    Walaupun lagu ‘O Come, All Ye Faithful’ sudah banyak dipakai umat Kristiani di seluruh dunia, namun sampai tahun 1947 pengarangnya belum diketahui. Awalnya orang percaya bahwa lagu ‘Adeste Fideles’ dibuat pada abad ketiga belas dan ditulis dalam bahasa Latin oleh St Bonaventura. Namun, legenda itu dibantah oleh Dom John Stephan, seorang imam sekaligus sarjana Katolik yang meneliti nyanyian.
    Pada dekade terakhir tepatnya tahun 1946, ternyata ditemukan tujuh buah manuscrip, yang memuat syair asli ‘Adeste Fideles’ yang ditandatangi oleh J.F. Wade. Dom John Stephan However mulai meneliti ke tujuh naskah itu. Dari berbagai-bagai tanda, ia mengambil kesimpulan bahwa John Francis Wade bukan hanya yang menyalin Lagu Natal itu, melainkan juga yang mengarangnya. Mungkin ada beberapa kata-kata atau not-notnya yang dipinjamnya dari hasil karya pengarang lain. Namun lagu Natal yang ditulis kira-kira tahun 1740-1743 itu dipastikan adalah gubahan J.F. Wade sendiri. Maka pada tahun 1947 sarjana Katolik itu menerbitkan sebuah buku kecil yang mengumumkan penemuannya. Sejak itu dipercaya bahwa lagu Adeste Fideles merupakan karya besar dari John Francis Wade.
    John Francis Wade, dilahirkan di Shrewsbury, Inggris, pada tahun 1710 dalam sebuah keluarga Katolik yang saleh. Sulit sekali menjadi seorang Katolik di negeri Inggris pada permulaan abad yang ke delapan belas. Karena pada akhir abad yang ketujuh belas, pernah ada seorang raja Inggris yang sangat menindas rakyat. Ia diusir dan digantikan oleh seorang raja baru. Raja lama itu seorang Katolik. Namun penggantinya seorang Kristen non-Katolik bernama raja James II. Maka orang-orang Katolik di Inggris acapkali dicurigai, kalau-kalau mereka masih memihak pada raja yang lama itu.
    Dalam suasana yang penuh prasangka itu, banyak umat Katolik yang mengungsi dari Inggris ke negeri-negeri lain. Salah satu pusat perantauan mereka adalah kota Douay, di sebelah utara negeri Perancis. Douay terletak hanya 150 kilometer jauhnya dari pantai selatan Inggris, maka banyak pengungsi Katolik dengan mudah dapat berkumpul di sana. Di tempat itu pula mereka membuka sebuah perguruan tinggi untuk pendidikan para pastor yang berbahasa Inggris.
    Ketika usianya kira-kira 30 tahun, John Francis, yang juga turut mengungsi, studi di sekolah tinggi umat Katolik di kota Douay itu. Pekerjaannya sebagai guru musik. Tetapi ia pun merangkap menjadi seorang kaligrafer (ahli membuat tulisan indah). Pada masa itu mesin cetak bahkan stensil belum ditemukan, sehingga kalau mau menggubah lagu atau musik, dicarilah seorang juru tulis yang rapih dan teliti. John F. Wade biasa bekerja sambilan sebagai seorang juru tulis partitur lagu. Sepanjang umurnya sampai ia meninggal pada tahun 1786, ia menyalin banyak sekali gubahan lagu umat Katolik, untuk dipakai baik dalam kebaktian umum maupun dalam rumah-rumah tempat tinggal.
    Salah satu koleksi lagu pilihan dalam bahasa Latin yang pernah disalin oleh John F. Wade itu berjudul Cantus Diversi (Berbagai-bagai Nyanyian). Dan di dalam koleksi itulah terdapat sebuah lagu Natal yang berjudul ‘Adeste Fideles’. J.F. Wade menjual syair tersebut dalam bahasa latin yang disertai musik untuk biaya hidup sehari-harinya. Penjualan dilakukan dengan dua cara : langsung kepada chapel dan biara-biara Roma Katolik dan secara tidak langsung kepada rakyat melalui keluarganya. Penjualannya laris karena lagunya mudah dan sederhana. Itulah sebabnya selama beberapa tahun lagu ‘Adeste Fideles’ masih dipertanyakan apa lagu ini digubah oleh J.F. Wade atau orang lain ? Jika oleh J.F. Wade, mengapa ia menggunakan cara penjualan melalui biara dan chapel katolik serta masyarakat umum ? Apakah lagu ini benar-benar suatu musik Gerejawi atau rakyat ?
    Dalam versi bahasa latin, semua syair ditekankan pada penyembahan kepada seorang bayi yang lahir di Betlehem, yang kita kenal sebagai Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita. Padahal di kalangan masyarakat, sudah dinyanyikannya sebagai lagu rakyat. Para sarjana Kidung pujian meneliti ada hal yang menarik dalam penulisan lagu tersebut. Lagu ini hampir menyerupai sebuah lagu rakyat (Folksong), karena begitu polos dan sederhana, bahkan baris-baris syairnya tidak bersajak sama sekali, dalam bahasa aslinya pun tidak. Namun kata-katanya sangat cocok dengan not-notnya, seolah-olah orang yang sama itu menciptakan kedua-duanya.
    Sejak tahun 1791 umat Kristen di Inggris sudah mulai memakai melodi itu. Sembilan tahun sesudah itu, yaitu tahun 1800, umat Kristen di Amerika Serikat mulai menyanyikannya. Di Amerika serikat lagu dalam bahasa latin ‘Adeste Fideles’, dapat dijumpai pertama kali di penerbit New York (published by John and Michael Paff, N.Y., ca 1803) sebagai lagu rakyat (Folksong) Amerika pada tahun 1803, dengan catatan syair dan musik oleh J.F. Wade. Walaupun sampai tahun itu masih saja ada yang meragukan apakah benar karya J.F. Wade. Dan
dari sanalah musik itu mulai tersebar ke negeri-negeri lain.

Syairnya Diterjemahkan Ke 120 Bahasa
    Pada pertengahan abad 19, ada beberapa pemimpin Gereja Inggris (Anglikan) yang sangat tertarik pada Gereja Katolik. Mereka mulai mencurahkan perhatian pada nyanyian-nyanyian pujian yang berasal dari orang-orang Katolik dan yang belum dimanfaatkan oleh umat Kristen non-Katolik.
    Salah seorang yang meneliti adalah seorang anak mantan gubernur pemerintah penjajah Inggris di India yang bernama Frederick Oakeley. Ia lahir di Shrewsbury, Inggris, pada 5 September 1802. Setelah mendapat pendidikan yang baik di Balliol College, Oxford, ia menjadi seorang pendeta dari Gereja Anglikan, yaitu gereja resmi negara Inggris. Frederick menemukan lagu ‘Adeste Fideles’ yang dibawa para pengungsi ketika penganiayaan berakhir. Selanjutnya Lagu Natal latin tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Bait 1-4 diterjemahkan dari bahasa Latin ke bahasa Inggris oleh Frederick Oakeley pada tahun 1841 supaya dapat dinyanyikan di gereja Margaret Street Chapel London. Sedangkan bait 5, 7 dan 8 diterjemahkan oleh William Thomas Brooke (1848-1917). Bait 6 diterjemahkan oleh Owen West dan Michael W. Martin. Terjemahan Frederick versi pertama diberi judul ‘Ye Faithful, Approach Ye’. Terjemahan yang kedua, disertai dengan perubahan-perubahan seperlunya, baru diberi judul yang dikenal sekarang yaitu ‘O Come, All Ye Faithful, Joyful and Triumphant !’ Dari 40 terjemahan Inggris yang beredar waktu itu, terjemahan Frederick Oakeley-lah yang paling populer. Terjemahannya ini, kemudian menjadi dasar dari berbagai-bagai terjemahan yang dibuat dalam bahasa Indonesia yang diberi judul ‘Hai Mari Berhimpun’ dan sudah diterjemahkan ke dalam 120 bahasa dan dialek di seluruh dunia.
    Empat tahun kemudian, yaitu tahun 1845, Frederick Oakeley merasa begitu tertarik pada Gereja Katolik sehingga ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pendeta Gereja Inggris. Pada tahun 1852 ia pun dilantik menjadi seorang pastor. Ia meninggal 29 Januari 1880, di Islington, Middlesex dan dikuburkan di St Mary`s Catholic Cemetery, Kensal Green, Inggris.
    Sementara itu, lagu Natal yang telah diterjemahkannya semakin populer, baik di kalangan umat Katolik maupun di kalangan gereja-gereja lain. Siapa yang bisa menduga suatu karya akan laku dan memberkati banyak orang atau tidak. J.F. Wade menjual teks lagunya ketika membutuhkan uang untuk penghidupannya dalam pengungsian. Tetapi justru karena itu lagunya menjadi populer.
    Bagi Saudara yang sedang berkarya dan kemudian menjadi patah semangat karena merasa tidak dihargai dan diakui oleh orang lain, atau sudah banyak berbuat sesuatu tetapi sampai saat ini belum kelihatan hasilnya, belajarlah dari kisah lagu ini.
    Sejarah akan menemukan caranya sendiri guna mengungkap suatu kebenaran. Ada waktunya Tuhan akan promosikan Saudara dengan caraNya dan dunia akan terpesona, ketika menyaksikan bagaimana tangan Tuhan seperti mengumpulkan potongan-potongan ‘puzzle’ dan ‘puzzle’ itu disusun menjadi sesuatu yang sempurna. (Sumber : Praise # 15).  (Kisah selengkapnya bias dibaca juga dalam buku Story behind The Song terbitan Yis Production plus foto-fotonya). www.majalahpraise.com

Lirik & Chord Lagu ini dapat dilihat di SONGS

Oh, Come, All Ye Faithful  By: John F. Wade
Oh, come, all ye faithful,
Joyful and triumphant!
Oh, come ye, oh, come ye to Bethlehem;
Come and behold him
Born the king of angels:
Oh, come, let us adore him,
Oh, come, let us adore him,
Oh, come, let us adore him,
Christ the Lord.
Highest, most holy,
Light of light eternal,
Born of a virgin,
A mortal he comes;
Son of the Father
Now in flesh appearing!
Oh, come, let us adore him,
Oh, come, let us adore him,
Oh, come, let us adore him,
Christ the Lord.
Sing, choirs of angels,
Sing in exultation,
Sing, all ye citizens of heaven above!
Glory to God
In the highest:
Oh, come, let us adore him,
Oh, come, let us adore him,
Oh, come, let us adore him,
Christ the Lord.

Yea, Lord, we greet thee,
Born this happy morning;
Jesus, to thee be glory given!
Word of the Father,
Now in flesh appearing!
Oh, come, let us adore him,
Oh, come, let us adore him,
Oh, come, let us adore him,
Christ the Lord

HAI MARI BERHIMPUN
Hai Mari Berhimpun Dan Bersuka Ria
Turutlah Semua Ke Betlehem
Marilah Pandang Tuhan Bala Sorga

Reff :

Sembah Dan Puji Dia, Sembah Dan Puji Dia
Sembah Dan Puji Dia, Yang Raja
Bernyanyilah Kamu Tentara Malaikat
Turutlah Bernyanyi Manusia
Pujilah Tuhan Jurus`lamat Dunia
Yang Maha Mulia Lahirlah Di Bumi
Sama Benar Dengan Kita Pun
Datanglah Ia Mengampuni Dosa
Perjanjian Allah Sudah Disampaikan
Kasihnya Nyata Di Dunia
Nyanyi Bersorak Dan Bersuka Ria.

Sumber : maajalah Praise

Kamis, 17 Juli 2014

Kacang lupa Kulit

Pernah dong dengar kata "kacang lupa kulitnya". Yup, kalimat itu sering kita dengar. Kalau seseorang yang sudah kita tolong, sudah kita baik-baikin namun membalasnya dengan melupakan kita.
Yah...sedikit miriplah dengan "air susu dibalas dengan air tuba". Peribahasa ini sangat cocok diberikan untuk umat Israel. Mengapa?
Allah sudah begitu baik dan sangat mengasihi umat Israel. Negerinya diberikan kelimpahan madu dan susunya. Selama pengungsiannya Tuhan selalu menyertai umat Israel, tak pernah sekalipun Tuhan melupakan dan berpaling dari umatNya ini. Tiang awan dan tiang api, kasut yang dipakai buat berjalan selama puluhan tahun tidak pernah rusak. Manna yang selalu dikirim lewat burung-burung di udara. Umat Israel tidak perlu bekerja keras tuk mendapatkan manna. Tuhan sudah sediakan semuanya deh. Sebelum Adam diciptakanpun Tuhan sudah menyiapkan segala sesuatunya buat manusia. Taman Eden, buah-buahan, makanan dan lain sebagainya sudah disediakan olehNya. Bahkan Tuhan tahu kalau Adam itu butuh seorang partner, makanya Tuhan menciptakan Hawa buat menemani Adam. Dia mengerti banget deh semua kebutuhan makhluk yang diciptakanNya. Seperti seorang ayah, apabila dia tahu jika sebentar lagi dia akan memiliki seorang bayi, pastilah dia akan memperlengkapi segala kebutuhan bayinya itu sebelum bayi itu lahir. Apalagi Bapa disurga, Dia tentunya tidak mau mennciptakan sesuatu tidak dengan sempurna. Ga mungkin Tuhan menciptakan Adam namun tidak meyediakan tempat tinggal dan lain-lainnya untuk makhluk ciptaanNya. Adam dan umat Israel sama-sama disayang Tuhan. Namun mereka selalu saja berbuat yang tidak disenangi Allah. Masa Allah Bapa yang menciptakan kita, mengasihi kita, eh...kitanya malah menyembah, mengagungkan yang lainnya. Sakit ati ga??? Nah itulah umat Israel, Kacang lupa ma kulitnya. Lupa pada Allah sang penciptanya. Allah tidak hanya tau menciptakan, namun Dia memelihara umatNya. Dan ini sudah terbukti didalam alkitab bahwa bagaimana Allah selalu menyertai umatNya.
Umat Israel identik dengan umat masa kini, yg adalah kita semua. Jangan kita menjadi "kacang lupa akan kulitnya"
Jangan kita membalas air susu dengan air tuba. Ingatlah pada Dia, yang menciptakan serta memelihara kita dengan baik.
Banggalah dengan menjadi seorang Kristen. Bersikaplah sebagaimana Yesus sendiri yang sudah menjadi teladan kita.
Hiduplah dengan penuh damai dan berkat-berkatNya. Jadilah garam dan terang. Tuhan Yesus mencintai kita semua. amin

(Nehemia 9 )

By; S.Hoky


Rabu, 16 Juli 2014

Auto-Biografy Fanny Crosby


 

  Bagaimana perasaan Saudara jika Saudara mengalami cacat fisik atau buta seumur hidup ? Pasti sangat sulit dibayangkan jika hal itu terjadi dalam hidup kita bukan ?! Biasanya kita berpikir jika mengalami cacat fisik, misalnya kita menjadi buta, maka kita tidak sempurna sebagai manusia. Dan biasanya kita merasa malu kalau mata kita menjadi buta. Bahkan, ada pula orang tua yang tega membuang bayinya yang baru lahir karena bayinya itu buta. Sungguh kejam tindakan orang tua tersebut. Tapi orang yang memiliki cacat fisik, sebenarnya mereka adalah orang yang sangat istimewa. Mereka memiliki kelebihan yang sangat jarang dimiliki oleh orang yang fisiknya sempurna. Orang yang memiliki cacat fisik juga bisa melayani Allah dengan kemampuan yang tidak tertandingi.  BUTA SEJAK MASIH BAYI
            Ada seorang wanita buta yang telah dipakai Allah untuk mengarang syair lagu-lagu Kristen secara luar biasa. Nama wanita buta itu ialah Fanny Jane Crosby. Dia lahir dengan normal pada tanggal 24 Maret 1820. Pada waktu dia baru berumur 6 (enam) minggu, dia menderita infeksi di matanya. Lalu karena dokter yang biasanya mengobati keluarganya sedang pergi ke luar kota, mereka meminta kepada seorang yang mengaku dokter di daerah itu untuk mengobati. Tapi ternyata setelah diobati, hasilnya sangat mengerikan, yaitu mata Fanny yang masih bayi itu menjadi buta total. Melihat keadaan itu orang tua Fanny menjadi sedih sekali. Dan kesedihan mereka bertambah lagi karena beberapa bulan kemudian ayah Fanny meninggal dunia. Untuk menghidupi keluarganya, ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Fanny yang buta dan masih kecil dititipkan kepada neneknya. Dengan sabar, sang nenek mendidik Fanny, mengajarkan cara berdoa juga membaca ayat-ayat Alkitab. Karena mata Fanny buta, dia tidak dapat bersekolah di sekolah umum seperti anak-anak sebayanya.
 NENEKNYA MENGAJARI DIA MENGHAFAL AYAT-AYAT ALKITAB
           Fanny ternyata memiliki kemampuan menghafal yang luar biasa, dia bisa hafal seluruh kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Amsal, dan Pasal-pasal dalam kitab Mazmur. Sungguh hebat bukan ?! Kemampuannya menghafal isi Alkitab ini membuat orang lain terkagum-kagum. Fanny bersyukur, karena dengan kebutaannya ini, dia malah bisa meningkatkan kemampuannya menghafal secara luar biasa. Kemampuannya menghafal ayat Alkitab itu pula yang membuat Fanny bisa mendapatkan tema, inspirasi, dan kata-kata yang indah untuk menuliskan syair lagu-lagu Kristen. Fanny juga sangat pandai membuat puisi. Saat umurnya 8 tahun dia menulis puisi yang sangat indah berikut ini :
Oh, aku anak yang sangat berbahagia
Meskipun aku tidak bisa melihat
Aku memutuskan bahwa di dunia ini
Aku akan berpuas hati
Begitu banyak berkat ku nikmati
Yang tidak orang lain dapati !
Untuk menangis atau berduka karena aku buta
Aku tak akan melakukannya
            Fanny tidak pernah bersedih karena dia buta, yang membuatnya sedih ialah dia tidak bisa bersekolah seperti teman-temannya yang lain, yang normal penglihatannya.
BELAJAR DAN BEKERJA
            Untunglah, saat mendekati ulang tahunnya yang ke-15, Fanny mendapat berita yang sangat menggembirakan, yaitu ibunya berhasil mengumpulkan biaya untuk menyekolahkan Fanny ke ‘The Institution For the Blind’ di New York. Ini adalah satu-satunya sekolah untuk anak-anak buta di Amerika pada waktu itu. Di sekolah ini Fanny menjadi murid teladan dan kemampuan mengarang puisinya berkembang pesat. Bahkan pada umur 23 tahun, dia mendapat kesempatan menjadi wanita pertama yang diijinkan berpidato di depan Kongres Amerika (semacam DPR) di kota Washington D.C. Di sana Fanny tidak membaca pidato atau bercerita, tapi dia melantunkan beberapa puisi tentang kasih dari Sang Juru Selamat. Para pemimpin Amerika sangat tersentuh dengan puisi-puisi Fanny. Dan sejak saat itu dia banyak berteman dengan para pemimpin negara Amerika, termasuk berteman dengan beberapa presiden Amerika. Fanny kemudian menjadi guru di sekolah tempat dia belajar. Namun hal yang mengagetkan, meskipun Fanny sudah menghafal banyak sekali isi Alkitab, ternyata Fanny baru bertobat sungguh-sungguh dan menerima Kristus pada saat dia berumur 31 tahun. Hal itu terjadi dalam suatu Kebaktian Kebangunan Rohani yang dia hadiri.
            Kemudian pada umur 38, Fanny yang selain pandai membuat puisi, juga pandai memainkan harpa dan piano, menikahi Alexander van Alstine, seorang buta yang merupakan pemain organ terkenal di New York. Mereka kemudian mendapatkan seorang anak, tetapi saat masih bayi, anak mereka meninggal dunia.
MENJADI PENGARANG SYAIR LAGU KRISTEN
            Sampai umurnya 40-an, Fanny belum menciptakan syair lagu untuk nyanyian Kristen, tapi dia sudah menjadi pencipta puisi yang sangat terkenal. Kemudian melalui seorang pendeta dari Dutch Reform, Fanny dipertemukan dengan William Bradbuny, seorang komposer lagu yang terkenal. William sudah mendengar tentang Fanny dan ingin bertemu dengannya. Kemudian William meminta Fanny untuk menulis syair puisi untuk lagu Kristen. Akhirnya pada tahun 1864, saat Fanny berumur 44 tahun, dia menciptakan syair puisi untuk lagu Kristennya yang pertama.
            Sejak saat itu Fanny Crosby dikontrak oleh penerbit buku ‘Bigelow and Main’ di New York dan diberi tugas untuk menulis 3 buah syair untuk lagu rohani setiap minggu. Syair-syairnya itu kemudian diterbitkan dalam buku untuk pengajaran Sekolah Minggu. Dan penerbit itu memiliki koleksi 5.900 syair rohani dari Fanny Crosby. Mereka memberikan tunjangan finansial untuk kehidupan Fanny sampai akhir hidupnya.
             Hingga meninggalnya, Fanny telah menulis lebih dari 8000 syair untuk lagu rohani. Namun Fanny tidak selalu mencantumkan namanya sebagai pengarang syair yang dia buat. Fanny memakai tidak kurang dari 200 (dua ratus) nama samaran, dia tidak mau dikenal sebagai pengarang dari begitu banyak lagu rohani. Sungguh luar biasa karyanya, dia merupakan penulis syair terbanyak yang pernah ada. Kebutaannya membawa berkat yang luar biasa bagi umat manusia, sampai sekarangpun syair-syair lagu rohani Fanny Crosby masih dinyanyikan di mana-mana oleh berjuta-juta orang percaya di seluruh dunia, diterjemahkan ke dalam berpuluh-puluh bahasa.
SYAIR LAGU ‘BLESED ASSURANCE’
             Salah satu syair lagu karangan Fanny Crosby yang terkenal adalah ‘Blessed Assurance’. Penciptaan syair lagu ini memiliki kisah yang unik. Fanny Crosby memiliki banyak sahabat, dan salah satunya adalah nyonya Phoebe Knapp. Phoebe ini adalah seorang yang kaya dan pandai memainkan organ, dia juga senang menciptakan melodi untuk lagu rohani. Pada tahun 1873, saat Fanny berumur 53 tahun, pada suatu hari Phoebe datang ke rumah Fanny Crosby. “Tante Fanny, saya baru saja menciptakan melodi untuk lagu rohani. Coba dengarkan ya, saya akan memainkannya”. Phoebe lalu duduk di depan piano dan mulai memainkan melodi lagu ciptaannya. Fanny Crosby menurut kesaksiannya sendiri tidak pernah mengarang syair lagu rohani tanpa terlebih dahulu berdoa. Jadi mungkin sekali pada saat itu Fanny berlutut sejenak untuk berdoa. Phoebe selanjutnya memainkan melodi lagu ciptaannya untuk kedua kalinya, lalu untuk ketiga kalinya. Sambil menoleh  kepada tante Fanny, dia bertanya “Tante Fanny, apa yang dikatakan oleh not-not yang saya mainkan tadi?”
             Pada saat itu juga Fanny berkata : “Blessed assurance Jesus is mine” (Ku berbahagia yakin teguh). Dalam waktu tidak lebih dari 5 menit, keseluruhan syair lagu itu yang terdiri dari 3 bait selesai dikarang oleh Fanny Crosby. Sungguh luar biasa. Keseluruhan bait pertama lagu itu berbunyi :
Blessed assurance Jesus is mine
O what a foretaste of glory divine
Heir of salvation, purchase of God
Born of His Spirit, washed in His blood

Reff  :
This is my story this is my song
Praising my Savior all the day long
This is my story this is my song
Praising my Savior all the day long

           Sungguh syair lagu yang luar biasa dan dengan melodi yang tepat maka lagu ini menjadi nyanyian rohani yang disukai oleh orang percaya di seluruh dunia selama lebih dari seratus tahun. Ada banyak syair lagu rohani karangan Fanny Crosby yang masih terus disenandungkan oleh orang-orang percaya sampai saat ini. Memang melalui kebutaannya malah membuat Fanny Crosby bisa memunculkan kemampuannya yang luar biasa dalam mengarang syair lagu Kristen. Tuhan merencanakan hal yang terindah bagi Fanny yang mengalami kebutaan total sejak usia 6 minggu itu. Begitu juga dalam kehidupan kita, apapun malapetaka yang terjadi dalam kehidupan kita, bisa diproses Allah untuk kebaikan kita, seperti yang tertulis dalam Roma 8:28.
           Apakah saudara memiliki cacat tubuh? Mengalami kebutaan, atau kelumpuhan? Memiliki anggota tubuh yang tidak lengkap? Atau memiliki ‘kekurangan’ dalam tubuh saudara yang dianggap oleh orang lain sebagai hal yang memalukan? Ingatlah, Allah memiliki rencana yang luar biasa bagi hidup kita, apapun keadaan tubuh kita.
           Belajarlah dari Fanny Crosby, yang walaupun tidak pernah bisa melihat indahnya matahari terbenam, indahnya pelangi, indahnya pemandangan alam dengan mata jasmaninya, namun dia dipakai Allah untuk menunjukkan kepada kita semua melalui syair-syair lagu rohaninya. Sehingga melalui syair ciptaannya itu, kita melihat kebesaran Allah, kasih, kuasa dan karya Allah yang tak terselami. (Kisah selengkapnya dapat dibaca dalam buku ‘Story Behind The Song’ terbitan YIS production, lengkap dengan foto-fotonya)/ (Sumber : Praise #2).
 Lirik & chord lagu nya dapat dilihat di SONGS
 Blessed Assurance (Ku Berbahagia)
 1.Blessed assurance, Jesus is mine!
   Oh! what a foretaste of glory divine!
    Heir of salvation, purchase of God
    Born of his spirit, washed in his blood
 Reff :  This is my story, this is my song
           Praising my saviour all the day long  
           This is my story, this is my song
           Praising my saviour all the day long

2. Perfect submission, perfect delight     
    Visions of rapture now burst on my sight
    Angels descending, bring from above    
    Echoes of mercy, whispers of love (ke Reff)
 
3. Perfect submission, all is at rest     
    I in my saviour am happy and blest
   Watching and waiting, looking above     
    Filled with his goodness, lost in his love (keReff)
 KUBERBAHAGIA
 1. Ku berbahagia, yakin teguh: Yesus abadi
     kepunyaanku! Aku warisNya, `ku ditebus,
     ciptaan baru Rohulkudus.
 Reff:
Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.
Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.
 2. Pasrah sempurna, nikmat penuh; suka sorgawi
     melimpahiku. Lagu malaikat amat merdu;
     kasih dan rahmat besertaku.(keReff)
 3. Aku serahkan diri penuh, dalam Tuhanku
     hatiku teduh. Sambil menyongsong kembaliNya,
     `ku diliputi anugerah.(ke Reff)
 Sumber : www.majalahpraise.com

SAMPAH

Sampah adalah barang-barang buangan yang sudah tidak berguna lagi bagi hidup manusia. Sampah bau, kotor dan menjijikkan. Semua manusia memiliki sampah dan membuangnya begitu saja pada tempat sampah maupun dijalanan.
Tak jauh  beda dengan kehidupan manusia. Manusia hanya tau menyalahkan dan menghakimi sesamanya. Jika ada yang hidupnya penuh dengan dosa, maka mereka akan dituding sebagai orang yang tidak berguna, sampah masyarakat. Hidup seperti ini sudah bagaikan hidup didalam neraka (walau belum pernah merasakan neraka aslinya hehehehe). Mereka yang dikucilkan seperti itu akan merasa smakin terpuruk. Banyak diantaranya sampai nekat mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri. Mereka merasa kotor dan menjijikkan sehingga orang-orang menjauhi mereka. Bukannya merangkul dan menyadarkan mereka tuk kembali ke jalan yg benar tetapi malah menghakimi, menuding dan menjauhi mereka, sehingga terjadilah sikap yang semakin kacau. Mau bertobat namun takut dengan penolakan-penolakan. akhirnya mereka semakin jatuh lebih dalam lagi.
Ingatlah, bahwa tidak semua sampah itu tidak berguna. Sampah-sampah yang sudah terbuang dan tidak dianggap layak masih bisa didaur ulang. dibuat baru, dipoles menjadi sesuatu yang lebih indah.
Begitu pula dengan hidup kita. Yesus datang ke dunia sebagai recycle dari hidup kita yang lama, yang penuh dosa menjadi lahir baru.
Hidup kita didaur ulang dan diproses sehingga membuat kita menjadi lebih berharga dan layak dimata Tuhan.
Kita bukan lagi menjadi sampah, namun berkat Yesus kita terdaur ulang menjadi ciptaan yang baru. Ciptaan yang lebih mulia.
Ingatlah bahwa dulu Sauluspun penuh dosa, namun karena Tuhan mendaur ulang hidupnya sehingga Saulus berubah menjadi Paulus.
Ingat pula kisah seorang pelacur yang akhirnya bertobat setelah didaur ulang oleh Tuhan Yesus. Masih ingat pula cerita seorang pemungut cukai yang serakah, Zakheus yang menganggap dirinya penuh dengan dosa namun bertobat setelah didaur ulang juga ma Tuhan Yesus?
Jadi, janganlah takut dan ragu untuk datang pada Yesus. Sujud dan minta pengampunanlah padaNya. Jangan hiraukan tudingan atau penghakiman manusia, tapi takutlah pada penghakiman Tuhan. Kita semua berharga dimata Tuhan. Yesus cinta saya, kamu dan kita semua. Haleluyah

By: S.Hoky

Selasa, 15 Juli 2014

Dia, yang turut mendatangkan kebaikan

Ada seorang lelaki paruhbaya yang suka hidup menyendiri. dia tidak bergaul dengan siapapun. orang-orang disekitarnya mengenal dia sebagai "si bengis". Bukan karena dia jahat, tetapi karena dia sama sekali tidak pernah memberikan senyuman atau bergaul dengan orang lain. Dia merasa tidak membutuhkan bantuan orang lain karena dia merasa ...hidup berkecukupan dan dia bisa mengerjakannya sendiri tanpa harus meminta bantuan orang lain. suatu ketika dia merasa tidak enak badan, akhirnya dia pergi ke dokter untuk memeriksakan dirinya. dan dokterpun memberi rujukan untuk check up di laboratorium. setelah menunggu kurang lebih 3 hari, akhirnya hasil dari lab keluar dan lelaki ini kembali mengunjungi dokternya. Akhirnya dia divonis menderita penyakit yang parah dan diperkirakan hidupnya tinggal beberapa bulan lagi. Dibulan pertama dia lalui dengan depresi karena dia memikirkan hidupnya yang tidak akan lama lagi. bulan kedua badannya semakin kurus, mukanya semakin kuyu karena dia stress memikirkan penyakitnya. memasuki bulan yag ke 3, dia akhirnya berniat merubah sikapnya. Karena dia berpikir bahwa hidupnya tidak akan lama lagi, dia berpikir apa salahnya jika mulai dari sekarang dia berubah. dia mulai tersenyum dan menyapa orang-orang disekitarnya. Dia mulai mau mengunjungi dan bercakap-cakap dengan tetangganya. Orang-orang yang mengenalnya menjadi sangat heran sekaligus gembira melihat perubahan sikap dari lelaki paruh baya ini. Setiap weekend, lelaki ini mengundang teman-teman sekompleknya untuk membuat acara barbeqiu dibelakang rumahnya. Dia menikmati suasana yang begitu ceria. Dia mulai dapat tertawa lebih keras ketika melihat tingkah laku anak-anak tetangganya yang lucu-lucu. Tetangganyapun kerap mengundang dan mengirimi makanan buatnya. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tanpa terasa bulan yang telah divonis oleh dokter sudah dia lewati. akhirnya dia kembali mengunjungi dokter tersebut, dan dokter itupun mengatakan bahwa hal ini sungguh ajaib. bukan menunda umur tetapi penyakit lelaki ini hilang sama sekali. kondisinya 100 persen pulih. Badan lelaki ini sudah tidak kurus lagi, mukanya sudah kembali segar bahkan terlihat jauh lebih baik karena ada keceriaan yang tampak diwajahnya.
Saudaraku...1 buah senyuman efeknya luar biasa. 1 buah senyuman dapat memperpanjang usia kita. 1 buah senyuman dapat menyembuhkan luka atau sakit kita. 1 buah keceriaan dapat membuat hidup kita berubah total. 1 buah kebajikan membuat kita dapat menjadi seorang malaikat dimata orang lain dan menciptakan sejuta keajaiban. Dan yang terpenting yang harus kita sadari bahwa Tuhan bekerja untuk mendatangkan keajaiban/kesembuhan melalui cara apa saja. lewat sahabat-sahabat kita,lewat tetangga kita, lewat orang-orang terdekat dari kita. Dunia kedokteran terbatas, tapi tangan dan kuasa Tuhan tidak terbatas. Dia menyembuhkan secara ajaib dan luar biasa. tidak perlu gunting,pisau,jarum dan lain-lain yang biasa kita temui di rumah sakit. Dia bisa memakai apa saja, bahkan hanya melalui iman dari sahabat,saudara dan orang terdekat kita. Dia Allah yang ajaib. Dia Allah penyembuh. Dia Allah yang peduli.
Teruslah berbuat kebajikan karena kita tidak tau sampai kapan batas kita hidup didunia ini
Selamat pagi dan Tuhan memberkati.
Silahkan di copy, tapi untuk menghargai karya seseorang, mohon dicantumkan sumber tulisan ini. YHbu

By : SH

 

Senin, 14 Juli 2014

Matius 6:11

"Berikanlah kami pada hari ini, makanan kami secukupnya ".
Kita diajar Tuhan untuk selalu berharap padaNya  SETIAP HARI. Kita tidak berdoa berikanlah kami makanan kami untuk seminggu, sebulan atau setahun, tapi untuk hari ini. Mengapa harus setiap hari, bukan buat seminggu, sebulan ataupun setahun? Kan bagus toh, minta setahun jadi nanti ga usah repot minta-minta tiap hari ??
Dalam doa Bapa kami ini, dikatakan pada hari ini, artinya kita meminta untuk hari ini saja. Besok dan seterusnya kita minta lagi tiap hari. Yesus ingin kita selalu bersekutu denganNya disetiap hari. Kita harus selalu menggantungkan harapan dan keinginan kita padaNya setiap hari. Datang dan berseru dalam namaNya hari ini, esok dan seterusnya. Itulah kerinduan Tuhan untuk selalu dekat dengan anak-anakNya.
Dengan bersekutu setiap hari, maka kita akan menjadi akrab dengan Bapa disurga. Contoh, teman yang selalu kita temui dan ajak berbincang-bincang setiap hari, lama-lama kita akan cepat menjadi akrab dengannya, begitu pula dengan Allah Tuhan kita. Oleh sebab itu Tuhan menginginkan doa kita setiap hari.
Makanan kami secukupnya. Tuhan tau porsi berkat kita setiap hari. Dia tahu dan telah mengaturnya sesuai dengan kebutuhan kita masing-masing. Makanya kita meminta yang secukupnya untuk hari ini. Jangan meminta terlalu banyak atau berlebihan. Itu mengikutii nafsu kedagingan kita yaitu RAKUS. Minta yang secukupnya untuk hari ini, toh besok bisa minta yang lain lagi, lusa minta yang lain lagi dan seterusnya, maka dari itu kita diajarkan untuk memintanya setiap hari. Inti dari Mat 6:11 mengajarkan bagaimana kita harus bertekun bersekutu dengan Tuhan tiap hari. mengajarkan untuk tidak rakus dengan meminta hanya secukupnya saja. Mengajarkan kesabaran untuk menahan meminta yang lainnya tuk hari lainnya.
Bukan hanya pada hari minggu saja kita menghadap Tuhan, bersekutu dengan Tuhan di tanggalan merah saja, namun Tuhan ingin dekat dan menjalin keakraban dengan kita SETIAP HARI.
Amin Haleluyah....Terima kasih Tuhan, Engkau sungguh baik. Engkau menyediakan segala kebutuhan kami. Engkau melihat dan Engkau menyediakan. Terima kasih Tuhan, Hosana bagiMu ditempat yang maha tinggi, Amin.

By; SH